Kisah Nyata! Pegawai Pertamina yang Menolak Tunduk Pada Mafia Korupsi -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Kisah Nyata! Pegawai Pertamina yang Menolak Tunduk Pada Mafia Korupsi


Oleh Ainul Nismala

Kisah nyata ini saya tulis dengan sebenarnya. Tanpa menambah-nambahi atau mengurangi. Orang jujur itu selalu ada. Mungkin banyak di antara mereka terpaksa menyerah ketika berhadapan dengan mafia, tapi tidak dengan bapak saya.

Almarhum bapak saya adalah pensiunan Pertamina. Beliau pensiun sekitar tahun 2005. Sebelum itu, bapak bekerja di Pertamina Jagir Surabaya. Tahun 1990 beliau dimutasi ke Banjarmasin. Tahun 1999 mutasi ke Makassar.

Sekitar 2 tahun sebelum pensiun, beliau dimutasi ke Pertamina Pluit Tanjung Priok dan diberi jabatan sebagai Kepala Bidang Teknik.

Di saat banyak karyawan masuk Pertamina karena koneksi (teman atau keluarga), bapak diterima sebagai karyawan pertamina tanpa koneksi apa-apa.

Di awal masa kerja beliau sebagai Kepala Bidang Teknik, bergepok-gepok uang mampir ke laci kantor beliau setiap hari. 

Ketika ibu bertanya, "Itu apa pak?" Dengan singkat beliau menjawab, "Ini uang panas. Jangan dekat-dekat."

Sebagai Kepala Teknik, beliau berwenang memilih tender-tender suplayer bahan teknik. Setiap hari beliau "bernyanyi" alias menceramahi suplayer yang memberikan uang suap agar dimenangkan tendernya. Dan hasilnya, beberapa hari kemudian tidak ada lagi gepokan uang yang mampir ke meja kerja beliau. Semua uang yang sebelumnya ditaruh di meja, beliau kembalikan. 

Bapak hanya memenangkan tender yang benar-benar sesuai antara proposal dan barang serta harganya. Bapak hapal dan tahu harga bahan dan kualitasnya. Sehingga para suplayer harus benar-benar jujur.

Itu pun masih ada suplayer yang nakal. Pengerjaannya dilakukan malam hari agar tidak ketahuan apakah barangnya sesuai proposal atau tidak. Sehingga seringkali tengah malam bapak harus meninjau pemasangan alat di lokasi. Terkadang ibu menemani, tapi lebih sering tidak. Dan bapak pun berkali-kali berpesan agar ibu bersiap jikalau bapak pulang hanya tinggal nama. Karena bapak harus berhadapan dengan para mafia.

Tidak hanya godaan uang dan ancaman nyawa, godaan berupa wanita penghibur juga kerap mampir. Ketika perjalanan dinas dan harus nginap di hotel, para kontraktor mengirim cewek-cewek cantik dengan baju minim. Mereka mengetuk pintu kamar dengan alasan pinjam telepon, pinjam majalah, tanya ini dan itu. Tapi semua itu tak membuat iman bapak goyah.

Bapak punya banyak musuh. Penyebabnya karena bapak sangat gemar memakmurkan masjid yang merupakan kegemaran beliau sejak remaja. Bapak juga peduli pada bawahan. Bawahan yang lama tidak naik golongan dan rajin ke masjid, beliau upayakan untuk naik golongan. Sementara untuk beliau sendiri, bapak tidak terlalu peduli. Di saat kenaikan golongan seharusnya terjadi 2 tahun sekali, bapak tetap tak bergeming, tidak berusaha agar golongannya dinaikkan. Bahkan bapak berkata pada ibu, "Kita ini gak usah ikut-ikutan yang lain. Wes enak jadi orang asing, berteman sama Gusti Allah saja."

Bapak tidak ingin anak-anaknya bekerja di Pertamina. Karena kalau imannya tidak kuat, bisa terpengaruh. Dan pengaruh di sana kuat banget. Maka bapak berusaha menabung agar dapat menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.[]

Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel