Oleh Ainul Nismala
Nak pernah ditempatkan di Power House Pertamina Perak, sebuah tempat transit minyak dari kapal ke truk tanki. Sebelumnya, truk tanki selalu tidak diisi penuh supaya sisa minyak yang ada di kapal bisa dijual. Tetapi ketika bapak ditempatkan di sana, proses pengisian diawasi ketat. Truk tanki harus diisi penuh sampai minyak di kapal habis.
Sehingga pada suatu hari ada oknum yang mengancam bapak melalui telepon, "Min, awas ya, kamu masuk ke kandang macan!"
Bapak tidak gentar dengan gertakan itu. Malah si penelepon dibentak, "Siapa ini? Hadapi aku kalo berani. Aku gak takut!"
Kejadian serupa terjadi lagi ketika bapak ditempatkan di Plumpang Priok. Sudah menjadi rahasia umum, truk tanki 6000L bisa diisi melebihi kapasitas dengan menyuap petugas sehingga lebihannya bisa dijual ke penadah yang nantinya akan dijual ke pengecer. Bapak menertibkan hal tersebut sehingga pada suatu hari bapak didemo oleh para sopir. Bapak menemui mereka dan memberikan penjelasan.
Meski mereka pada akhirnya bisa memahami, masih ada saja oknum yang kesal sehingga berbuat ulah seperti melubangi tanki. Hal ini sangat berbahaya, karena tanki yang bocor dapat memicu terjadinya kebakaran. Jika terjadi kebakaran, bapaklah yang harus bertanggung jawab, karena hal itu mencakup bagian dari pekerjaan bapak.
Tengah malam bapak sering ditelepon untuk mengatasi kebocoran-kebocoran itu.
Meski punya banyak musuh, bapak pun punya banyak teman. Orang-orang yang jujur tetapi tidak punya keberanian, sangat mendukung dan senang dengan bapak. Salah satunya adalah pimpinan beliau ketika berada di Banjarmasin. Ketika bapak dimutasi ke Makassar, tak lama pimpinan bapak ini pun dimutasi ke Plumpang Priok. Beliau menilai bapak sangat dibutuhkan di sana. Maka beliau pun merekomendasikan bapak untuk dimutasi ke sana.
Ketika bapak menempel tulisan "TIDAK MENERIMA GRATIFIKASI" di pintu kantornya, sang pimpinan pun ikut menempel di pintu kantornya juga.
Bahkan, para istri karyawan pertamina merasa tenang ketika tahu suaminya pergi dinas keluar kota bersama bapak.
Suatu kali, salah satu besan bapak kebetulan bertemu dengan seorang pensiunan Pertamina Surabaya. Ketika ditanya apakah kenal bapak, maka dijawab bahwa tidak ada satu orang pun pensiunan Pertamina saat itu yang tidak mengenal bapak. Bapak adalah malaikat, begitu katanya.
BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pertamina) tidak pernah memeriksa laporan keuangan jika yang membuatnya adalah bapak, karena sudah tahu kejujuran bapak.
Selama di perantauan, sebenarnya bapak mendapat fasilitas rumah dinas dan mobil dinas. Tetapi hanya rumah dinas saja yang digunakan. Sedangkan mobil, bapak lebih memilih membeli mobil sendiri. Awalnya suzuki Carry. Beberapa tahun kemudian berganti Mitsubishi Colt. Dimutasi ke Makassar, Mitsubishi Colt dijual dan beli Panther Deluxe di sana. ke Plumpang Priok, sampai pensiun kembali ke Sidoarjo, mobil itulah yang selalu digunakan. Meski ada tawaran pengisian BBM gratis dari kantor, bapak nggak pernah mau menerima.
Pada saat bapak meninggal dunia, ada salah seorang teman seruangan bapak yang melayat ke rumah dan mengucapkan bela sungkawa, Pak Jacky namanya. Ketika ibu memintakan maaf untuk bapak, Pak Jacky menjawab, "Pak Yamin gak ada salah apa-apa Bu. Kita-kita ini yang banyak salah. Sering merepotkan Pak Yamin."
Mochammad Yamin, itulah nama yang disematkan oleh mbah lanang untuk bapak. Doa dari mbah lanang agar bapak senantiasa menjadi penerus Rasulullah Muhammad SAW dan menjadi bagian dari golongan kanan yang akan menerima catatan amal dengan tangan kanan beliau.
Aamiin Allahumma aamiin.
NB: mohon dishare saja (tidak dicopas)
Foto: piagam perhargaan bapak atas dedikasi beliau di Pertama selama 30 tahun.